Sabtu, 07 Mei 2016

Saya Tidak Bisa Berenang

Berawal dengan permulaan yang asal-asalan dan pengakhiran tak pasti, terkecuali kematian. Menghirup kepulan uap air mendidih, dua telur saling berbenturan memecah gelembung rapuh. Ia berdiri sedikit menjauh. Api kompor sudah terlalu mengganggu pandangannya. Tangan pasi mendingin bercorak urat kehidupan menyeka air kesedihan yang begitu saja jatuh dari mata kirinya. Seorang khayal berbisik dari samping, "Kau harus tetap hidup".
Hari ini tidak ada bulan, mendung yang sejak sore menitikan butiran air dari langit sang pencipta menghalanginya. Tanah masih basah, petrikor menyejukkan udara. Wajahku masih menatap hitam hanya beberapa titik yang bersinar satu, dua, empat, dan lima jariku menghitung. Pikirku mengarungi dunia hayal, angin berhembus menggoda ajak lalui kelabilan waktu. Beberapa kata muncul disusul kalimat berdebur memanahkan seribu anak panah membawa juntaian benang warna-warni namun hitam jadi mayornya. Saling bersalipan, bergulung tak aturan dan mengikat satu sama lain terkumpul di ruang batok, membekukan otak dan retak. Suara kehilangan katanya, umpatan merundung nurani. Eufemisme menumpul rajutan halus enggan untuk menafsirkan absurditas pola pikir yang tak lagi berpola. Sungguh ini paragraf acak, berlompat-lompat.
Baca selengkapnya »

Rabu, 13 April 2016

...

“Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk, kita butuh mengungsi ke dunia lain.” 
(Gustave Flaubert)
     Manusia-manusia insomnia belum usai menyeruput kopi arabica gold. Dini hari sudah menusuk tulang, namun tangan masih sibuk mengaduk kopi dengan takaran bubuk 20 gram tak boleh kurang, tak boleh lebih kata boss. “Mbak pesen arabica gold dua.” minta seorang pelanggan yang baru datang sekitar jam dua pagi. Tawa mereka, menyimpulkan apologi bahwa istri-istri tak kan marah jika suaminya ngopi sampai pagi. Arabica gold jadi primadona malam ini, berlenggak lenggok layaknya model berparas pahit, berjalan diantara lidah. Wajah kantuk para insomnia jadi bergairah. Agaknya lebih memikat daripada tubuh bohay sang istri, mungkin aroma kopi lebih nikmat.
    Asap rokok mengepul, bersalip dengan angin malam. Coba rasuki selah-selah otakku melalui lubang hidung. Pikirku yang sumpek sejak kemarin-kemarin berakumulasi, tidak bisa direduksi dan terjebak di “Wakrop Mbah Mo”. Beberapa bulan ini hidup saya sedang tidak bersahabat. Indah yang dulu, sekarang tlah hilang, kabur bersama waktu yang menguji. Resahku kambuhan, pribadiku semakin tak jelas. Mi instan yang tiap hari mengkritingi lambung, aku pun tak peduli. Biar sakit lalu mati. Mati pun aku tak peduli, biar hidup seribu tahun pun. Akhirnya neraka jadi persinggahan, lamanya hanya DIA yang tahu. Lagi-lagi eksistensi yang mendahului esensi, akan di putus oleh realita. 
    Malam itu, setelah menangis sejadi-jadinya di depan salah seorang teman, aku ingin tidur. Namun apadaya, ini keharusan untuk tetap terjaga. Melamun lalu tenggelam dalam prasangka akibat tindihan masalah. Malam ini, juga malam-malam sebelumnya selalu sama. Absurd terkonstruksi mengisi setiap ruang dalam otak, tak karuan. Arsitektur kehilangan seninya. Pesimistis untuk bangun. Aku lelah menabik problematika urip. Urip tak kasihan pada saya. Urip jahat. Nggak tak bolo awakmu, rip-urip. Babano. 
Baca selengkapnya »

Selasa, 29 Maret 2016

Kata sang tetua

Tak seperti biasanya hari ini saya sungguh malas berlama-lama di sekret. Belum tau alasannya, bisa jadi karena saya bosan harus melihat wajah-wajah yang itu lagi dan lagi. Atau mungkin karena si sialan itu. Jika benar ingin ku pisuhhi dia. Dasar bangsat kau! SEPI yang sialan. Tega-teganya dirimu hanya menyisakan suara kipas, decitan kayu, gerutuan tikus, perut embul ketum, dan lebih parah lagi wajah pengharapan sang tetua akan sentuhan lembut dan cipokan wanita menggairahkan, sialnya itu hanya harapan semu diantara perdebatannya dengan kursi-kursi kelas. SEPI yang tak berpri keramaian, mencoba kelabui saya melupakan kesepian melalui dua manusia abstrak (sesuatu yang dapat dilihat ,kata sang tetua). Hampir setiap hari, dari perut masih keroncongan sampai rasa mual karena guyonan mereka. Rutinitas tanpa pikir di sekret.
Kadang kala kepelongoan mendominasi. Jika sudah bosan, kisah di kamar mandi jadi topik pembicaraan, jika sudah tak menarik lagi keanehan diri sendiri jadi perdebatan tak berujung. Misal saja, story telling tersingkat pimred, perut embul usman, celetukan maut sekum, dan sang tetua yang selalu mondar-mandir untuk mengusir kebosanan. Tapi sayangnya, emhh.. karna yang disayang sedang tidak disisi. Bukan-bukan itu. Maksudnya, disayangkan keambiguan ini terlalu sering terjadi diantara kami bertiga “aku yang paling cantik”, perut embul dan sang tetua. Hanya bertiga di ruang remang, selonjoran berbantal kapuk yang lapuk. Untung iler tak pernah ikut campur. Masih bisa dipastikan kondusif.
Baca selengkapnya »

Rabu, 23 Maret 2016

Waktu Yang Surutkan

Langkah berat susuri lautan berbutir
Angin panas membawa ratusan debu berdebur
Kali ini sang raja siang begitu angkuh mengumbar teriknya
Tetesan letih jatuh basahi pelipis
Basah, layaknya mandi di lautan keringat
Asin, hingga tak mampu mengecap
Panas hampir lelehkan kaki keras musafir ini
Namun enggan untuk larutkan keras tekad
Malam tak kunjung juga bertamu, 
Meski bulan merayu untuk hembuskan sedikit nafas istirahat
Panjang... 
Masih pajang jejak meninggalkan lara
Rumput kering seakan-akan menari kegirangan di antara batu-batu pasir
Hamparan mengering mengejek
Menampar-nampar muka telanjang
Haus...
Air ludah yang ia simpan di botol sudah habis
Tak mungkin isap air kelelahan dari kain kepala, terlalu asin 
Siluet punuk-punuk unta dari balik terik silau buat mengiri
Jika saja punya punuk, perjalanan tak mungkin seberat ini
 Oase... 
Satu-satunya harapan 
Membasahi kembali kerongkongan dengan air kehidupan 
sebelum haus yang melamban mulai surut oleh waktu
Lalu hentikan langkah dan harapan akhir

Rabu, 16 Maret 2016

Selingkuhanku

Rutinitas tak pernah tau ujungnya, mungkin sampai raga tak mampu mengeja makna dari ini semua. Pagi hingga sore menjelang ku habiskan dengan berleye-leye di atas kasur beralas kain biru dengan bantal dan guling tak aturan. Buka pemberitahuan bbm, buka line, buka instagram, buka mulut lalu buka pintu dan ke kamar mandi mau buang hajat dulu. Entahlah hari ini tipu ketua kelas alasan sakit dan titip absen untuk kuliah selanjutnya. Tak hanya buka-bukaan yang aku lakukan hari ini tapi juga cuci-cuci baju, agar besok bisa buka baju dan ganti dengan baju bersih. Sesambil menunggu nasi matang, ku buka laptop dan tulis-tulis seadanya di blog lalu posting ke facebook agar lainnya tertarik untuk buka blog ini. Benernya aku malam ini buka buku dan baca biar presentasi besok bisa buka mulut untuk bicara, ora ngurus bener atau salah sing penting dosen ngerti wani mbuka cangkem iku wes cukup, nilai B ada di genggaman. Tapi malam ini aku malas belajar akuntansi, selalu malas lebih tepatnya. Mungkin angka-angka yang saklek buat mata tegang dan ngantuk. Pokok yang penting debit-kredit seimbang masalah selesai. Aku enggak habis pikir ada mahasiswa yang mampu belajar ngitung uang hayalan dari pagi hingga siang hingga sore hingga malam dan kembali ke pagi lagi. Apa pikirku dulu, bisa-bisanya masuk jurusan akuntansi, alasannya karna prospek kerja akuntansi lebih terbuka lebar. Ga ada urusan, itu semua tergantung dari proses. Untunglah masih punya pelampiasan, aku bisa selingkuh mungkin sampai dua tahun kedepan. Sudah kurencanakan ingin habiskan waktu bersama selingkuhanku. Orang tua, yaa urusan nanti, akan ku yakin kan setelah lulus bahwa dia “selingkuhanku” jauh lebih baik dari dia pilihan kalian atas persetujuanku yang lalu saat umur masih belum bisa menyesuaikan kedewasaan. Jika janji itu bisa diputus sekarang, akan aku putus. Tapi sayang, itu tidak bisa. Lagi-lagi soal lainnya jadi alasan. Tapi aku tak sepenuhnya kecewa, kalo bukan karna kau ya “akuntansi” mungkin aku tidak akan kenal dengan selingkuhanku sekarang. Selingkuhan ajari aku memahamimu beri aku semangat dan tuntun menuju cita-cita yang masih belum terpikirkan. Bersabarlah sayang. Aku tuntaskan dulu hubunganku dengannya tapi hanya sekedarnya, perhatian tetap tertuju padamu "Selingkuhanku".
Kosan
Maret 2016

Ketika bosan

Cakrawala telah bertukar. Hawanya mengharap bulan tak sendiri lagi, petang ini. Wahai bintang yang sedikit. Tetaplah tinggal! Jangan ikuti awan gelap. -17:43-
Halus melambai dari jauh mata. Sepoi menggiring harum debur ombak. Siluet hitam terbayang antara lidah jingga. Dirimu berdiri menatap hitam tenggelamkan fajar. "Apa yang kau tunggu sayang?" ucapku dalam hati. Lalu suara berbisik dari tempatmu "Kematiannya." ucapmu lirih. -18.00-
Bosan... Wahai cicak di dinding beri aku harapan dalam tunggu. Jatuhkanlah telurmu, hasil buahan semalam bersama si jantan. Biar bekas kaos kaki yang erami, aku akan bersabar menunggu sampai hidup baru muncul dari cangkang tipis itu. Harapku tyrannosaurus mungkin yang akan memecah cangkang dari dalam. Ternyata salah, yang muncul hanya anak ayam. Terlalu banyak lamun melamun dari hayal menghayal. Dasar mungkin terlalu tinggi, mimpi di atas pucuk gunung. -18.06-
Manusia tak jelas itu, hari lalu berucap "Saya menyerah tidak apa-apa kan?" "Silahkan sayangku." aku membatin. Tapi jangan muncul lagi! Bersama kumis tipis apalagi kata-kata tak tau aturan itu. Ini bukan perkara gampang. Pintunya sudah terbuka sedikit. Angin malam terlanjur masuk dan kau pergi tanpa menutup kembali. Tau tidak aku mudah sekali masuk angin. -18.16-
Baca selengkapnya »

Susuri rasa lewat lidah dan pahami dengan pikiran masing-masing.

Identitas Buku
Judul                : Linguae
Penulis             : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit           : Gramedia Pusaka Utama
Tempat Terbit  : Jakarta
Tahun Terbit    : 2007
Cetakan ke      : 2
Ukuran Buku  : 13,5 x 20 cm


Terlambat delapan tahun untuk membaca buku ini. Menyimpulkan seperti ini mungkin saja salah tapi rasanya sudah terlalu telat, banyak karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang belum dibaca. Hari lalu saya dapat pinjaman “LINGUAE” dari seorang kakak angkatan di kampus. Ia bilang bahwa cerpen-cerpen SGA bagus, akhirnya saya habiskan waktu tiga hari untuk membaca. Dari kata ke kata, lalu kalimat ke kalimat, hingga bab ke bab menyusuri tiap arti sampai titik mengakhiri. Kadang harus mengulang karna gagal paham, analoginya di beberapa cerpen dalam buku ini seperti Joko Swiwi, Badak Kencan dan Perahu Nelayan Melintas Cakrawala agak sulit di pahami bagiku yang baru-baru saja membaca karya sastra jenis ini. SGA sepertinya membebaskan pembaca untuk berasumsi atas ceritanya dan kesimpulan hadir sesuai pemahaman pembaca atas tulisannya.
Setiap cerpen dalam buku ini punya nilai yang diangkat, dari percintaan, kemanusiaan, pencarian jati diri, konflik masyarakat, penghianatan, kebebasan dan mungkin yang lain. Salah satunya seperti “Cintaku Jauh di Komodo” disini menceritakan bahwa cinta bukan melulu soal rasa namun perwujudan juga jadi pertimbangan. Jika kekasihmu bereinkarnasi menjadi seekor komodo jantan apakah cintamu masih ada. Tak hanya menyajikan untaian kata yang asik tapi juga pertanyaan dan peryataan yang buat berfikir ulang atas sesuatu yang selama ini dianggap sederhana.
Buku ini enak dibaca dalam keadaan sepi dengan suasana yang tidak panas. Cukup dengan sejuk, akan buat nyaman ikuti alur cerita. Cocok untuk para punjangga yang suka berpuitis dan habis’si waktu dengan bait-bait kata penuh tafsir. Bagi pemula yang ingin jadi pujangga juga boleh, banyak kosakata yang bisa ditiru.